Islam dalam Pandangan Biologi

Islam dalam Pandangan Biologi, Islam adalah agama yang telah dikukuhkan sebagai agama yang paling sempurna dan diridhoi oleh Alloh SWT. Seluruh Syariat dan ajarannya sesuai dengan fitroh manusia, tidak ada yang bertentangan sedikitpun. Kali ini pak Teguh akan membahas berbagai macam Hadist yang pernah diriwayatkan beserta alasan ilmiah yang ditemukan yang menguatkan dan membenarkan atas kesahihan hadist tersebut.

1. Larangan Kencing Berdiri.
Dari Aisyah ra. berkata,
مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ بَالَ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوهُ
“Barangsiapa yang mengatakan pada kalian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air kecil sambil berdiri maka janganlah kalian membenarkannya (mempercayainya).”

Ada apa dengan kencing berdiri? Tahukah kamu, ketika kita kencing sambil berdiri, tidak semua air seni sudah keluar saat kencing tersebut. Mengapa? Kebanyakan pria pasti sedikit merasa tak puas setelah kencing sambil berdiri. Rasa-rasanya, masih ada yang tersisa atau mengganjal dan belum dikeluarkan semuanya. Faktanya, masih tersisa air seni yang terselip di batang zakar, kantong dan telurnya. Kondisi tersebut tentu saja tidak benar-benar membersihkan air seni dalam kantong zakar. Karena sisanya masih tertahan. Lebih gawat lagi jika kencing dilakukan sebelum menunaikan sholat. Meskipun sudah berwudlu, sholatnya pasti tidak akan sah karena masih ada sisa air kencing yang belum dikeluarkan. Hal itu juga sudah dijelaskan dalam sebuah Hadis Nabi kalau salah satu siksa kubur yang diderita disebabkan oleh jasad yang semasa hidupnya tak membersihkan diri dari air kencing. 
Jika kebiasaan Kencing berdiri berlanjut akan menimbulkan resiko batu ginjal. Sisa-sisa air seni akan tidak terbuang dan mengeras pada buah zakar. Bahkan sisa air seni itu akan membuat otot-otot paha dan buah zakar mengendur. Hal ini disebabkan karena sisa air seni yag terkumpul dan mengendap.
So, Masihkah kita kencing dengan berdiri????

2. Larangan Makan dan Minum sambil berdiri
عن أنس – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – : أنه نَهى أن يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِماً . قَالَ قتادة : فَقُلْنَا لأَنَسٍ : فالأَكْلُ ؟ قَالَ :
ذَلِكَ أَشَرُّ – أَوْ أخْبَثُ – رواه مسلم
Dari Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang untuk minum berdiri”. Qatadah (seorang tabi’in) berkata : “Kami bertanya kepada Anas, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Anas menjawab, ‘Yang demikian itu lebih jelek dan lebih buruk.’ (HR. Muslim).

Ada apa dengan  Makan dan Minum sambil berdiri?
Air yang masuk dengan cara duduk, akan disaring oleh sfringter. Sfringter sendiri adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal.

Nah, jika kita minum sambil berdiri, air yang kita minum tanpa disaring lag, dan Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadilah pengendapan disaluran ureter karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal, salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing adalah salah satu akibat dari minum sambil berdiri.
So, masihkan kita makan dan minum sambil berdiri?

3. Larangan Meniup Makanan dan Minuman Panas
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا أَتَى الخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ…
Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan… (HR. Bukhari 153).


Apa yang terjadi ketika kita meniup minuman atau makanan dalam keadaaan panas?
Makanan dan minuman panas mengeluarkan uap air yang disebut H2O. Ketika kita meniupnya, berarti memberikan gas ekskresi yang mengandung karbon dioksida CO2. Ketika uap air yang dicampur dengan gas karbon dioksida itu akan bereaksi dan menghasilkan asam karbonat yang bersifat asam.

H2O + CO2 -> H2CO3

Dalam darah kita ditemukan H2CO3 yang berguna untuk mengatur pH dalam darah. Darah adalah Buffer (solusi untuk mempertahankan pH) untuk menjaga kondisi asam lemah H2CO3 di dalam bentuk HCO3 untuk memastikan darah memiliki pH antara 7:35-7:45 dengan reaksi berikut:

CO2 + H20 <= H2CO3 => HCO3- + H +
Tubuh menggunakan penyangga pH dalam darah sebagai pelindung dari perubahan yang tiba-tiba terjadi pada pH darah. Ketika ada perubahan, dapat menyebabkan keseimbangan pH darah tidak dapat dipertahankan dalam keadaan normal apakah itu lebih asam atau basa dan ini akan mengganggu sistem.
Apa yang terjadi setelah kita makan atau minum makanan yang ditiup? Akan meningkatkan keasaman darah dan menyebabkan kondisi di mana darah akan menjadi lebih asam (pH menurun).
Seiring dengan penurunan pH darah, pernafasan menjadi lebih cepat karena tubuh berusaha untuk menstabilkan keasaman darah dalam fase normal dengan mengurangi jumlah karbon dioksida.
Ginjal juga berusaha untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengeluarkan lebih banyak asam melalui urine. Tetapi kedua mekanisme akan sia-sia jika tubuh terus memproduksi terlalu banyak asam.
Dalam jangka panjang akan menyebabkan asma, mengantuk, mual dan tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Sampai dapat menyebabkan tekanan darah rendah, stroke, dan bahkan dapat menyebabkan koma hingga kematian.
So, masihkah kita suka meniup makanan dan minuman panas?

Sebenarnya masih banyak lagi hadis yang bisa dibahas, nanti dilain waktu, pak Teguh bakal sambung kembali. Semoga 3 larangan di atas bisa kita hindari, dan bisa menjadi Aklak dan kepribadian kita..Amiin 


EmoticonEmoticon